Kalau biasanya mengelilingi gunung identik dengan aktivitas pendakian, masyarakat Ternate, Maluku Utara, punya cara yang jauh lebih unik. Ada tradisi bernama Kololi Kie, sebuah ritual adat dengan cara mengelilingi Gunung Gamalama yang menjadi ikon utama Pulau Ternate. Tradisi ini bukan sekadar jalan-jalan mengitari gunung, tetapi punya hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Ternate, penghormatan kepada leluhur, sekaligus doa untuk keselamatan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Kololi Kie bisa dilakukan melalui jalur laut yang dikenal sebagai Kololi Kie Mote Ngolo maupun jalur darat atau Kololi Kie Toma Nyiha.
1. Mengelilingi Gunung Gamalama bukan sekadar perjalanan biasa. Dalam tradisi ini, perjalanan dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan perlindungan kepada Tuhan. Gunung Gamalama menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat Ternate, sehingga ritual ini punya posisi khusus dalam adat setempat.
2. Ada unsur ziarah yang bikin ritual ini makin sakral. Rombongan tidak cuma berkeliling, tetapi juga mendatangi sejumlah makam yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah dan leluhur masyarakat Ternate. Jadi, perjalanan tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengingat kembali hubungan masyarakat dengan generasi terdahulu.
3. Jalurnya bisa lewat laut maupun darat. Versi yang paling mencuri perhatian adalah perjalanan mengitari Pulau Ternate menggunakan perahu. Dalam sejumlah pelaksanaan, rombongan adat menggunakan perahu yang dihias dan bergerak mengelilingi pulau, menciptakan pemandangan budaya yang cukup unik.
4. Tradisi ini juga punya nilai sosial yang kuat. Kololi Kie melibatkan masyarakat secara bersama-sama. Ada semangat gotong royong, saling menghormati, dan menjaga hubungan antarmasyarakat. Jadi, ritual ini bukan cuma urusan spiritual, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat identitas dan kebersamaan warga Ternate.
Kalau dilihat dari sudut pandang ilmiah dan urban, Kololi Kie menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat yang tinggal berdampingan dengan gunung api aktif membangun pengetahuan lokal untuk menghadapi lingkungan mereka. Gunung Gamalama bukan cuma bentang alam, tetapi juga bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan, risiko bencana, dan hubungan manusia dengan alam. Kajian tentang masyarakat Ternate bahkan melihat ritual seperti Kololi Kie sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang berkaitan dengan cara komunitas memaknai ancaman erupsi dan membangun ketahanan sosial. Tentu saja, ritual tidak menggantikan sistem pemantauan gunung api atau mitigasi bencana modern, tetapi dari perspektif sosial, tradisi seperti ini bisa membantu menjaga ingatan kolektif bahwa masyarakat hidup berdampingan dengan alam yang punya potensi bahaya.
Pada akhirnya, Kololi Kie bukan cuma soal mengelilingi Gunung Gamalama. Di balik perjalanan tersebut ada cerita tentang doa, leluhur, alam, Kesultanan Ternate, dan rasa kebersamaan masyarakat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa di tengah kehidupan yang makin modern, budaya lokal masih bisa punya tempat dan makna yang kuat.