Kalau biasanya anak kecil diayun cuma biar cepat tidur, masyarakat Banjar punya cara yang jauh lebih sarat makna lewat tradisi Baayun Maulid. Tradisi ini bisa ditemui di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, salah satunya digelar di halaman Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah, kawasan Kuin, Banjarmasin Utara. Dalam pelaksanaannya, anak-anak ditempatkan di ayunan yang dihias, kemudian diayun oleh orang tua atau keluarga sambil diiringi pembacaan Al-Qur’an, salawat, doa, dan syair-syair Maulid. Bahkan pada pelaksanaan 6 September 2026 lalu, tradisi ini diikuti sekitar 500 peserta dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menyambut Harjad ke-500 Kota Banjarmasin.
Ada beberapa hal yang bikin Baayun Maulid menarik dan nggak sekadar acara adat biasa:
1. Bukan cuma mengayun anak.
Gerakan mengayun dalam tradisi ini punya makna sebagai bentuk kasih sayang sekaligus simbol doa orang tua. Harapannya, anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, selamat, dan bisa meneladani Nabi Muhammad SAW.
2. Tradisi lama yang berbaur dengan Islam.
Sebelum dikenal sebagai Baayun Maulid, masyarakat Banjar sudah mengenal tradisi Baayun Anak. Ketika Islam berkembang di Kalimantan, tradisi tersebut kemudian berpadu dengan pembacaan Al-Qur’an, salawat, doa, dan syair Maulid. Jadi, budaya lokal tetap hidup, tetapi isinya mendapatkan nuansa keislaman.
3. Ayunannya juga punya ciri khas.
Ayunan tradisional biasanya dibuat dari tapih bahalai, yaitu kain sarung perempuan berukuran panjang, lalu dihias dengan kain khas Banjar seperti sasirangan, janur, pisang, ketupat, dan berbagai ornamen lainnya. Jadi dari tampilannya saja sudah kelihatan kalau ini bukan ayunan bayi biasa.
4. Suasananya ramai tapi tetap sakral.
Karena dilakukan secara bersama-sama, Baayun Maulid bisa menjadi momen berkumpulnya keluarga dan masyarakat. Anak-anak berada di ayunan, sementara orang dewasa mengikuti rangkaian pembacaan syair, salawat, serta doa. Nuansanya jadi campuran antara perayaan budaya, silaturahmi, dan kegiatan keagamaan.
Kalau dilihat dari sudut pandang ilmiah dan urban, Baayun Maulid menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. Secara psikologis, gerakan mengayun yang lembut memang dapat memberikan efek menenangkan pada bayi dan anak kecil karena rangsangan gerak ritmis dapat membantu mereka merasa nyaman. Namun, makna utama Baayun Maulid tentu bukan soal efek ayunan semata, melainkan nilai sosial dan budaya yang diwariskan. Dalam kehidupan kota seperti Banjarmasin yang terus berkembang, tradisi semacam ini juga berfungsi sebagai pengikat identitas masyarakat. Ketika ratusan keluarga berkumpul dalam satu ruang untuk menjalankan ritual yang diwariskan lintas generasi, terjadi proses transfer budaya secara langsung kepada anak-anak. Mereka bukan cuma mendengar cerita tentang budaya Banjar, tetapi ikut berada di dalam prosesi tersebut.
Pada akhirnya, Baayun Maulid menunjukkan bahwa tradisi lokal nggak harus kalah oleh perkembangan zaman. Justru ketika terus dilakukan dan dikenalkan kepada generasi muda, budaya Banjar punya peluang besar untuk tetap hidup. Dari sebuah ayunan sederhana, tersimpan cerita tentang keluarga, agama, sejarah, dan identitas masyarakat Banjarmasin.