Kalau selama ini Pekalongan lebih sering dikenal sebagai Kota Batik, ternyata daerah ini punya tradisi Syawalan yang nggak kalah menarik buat dibahas. Salah satunya adalah tradisi Gunungan Megono di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Tradisi ini biasanya digelar sekitar sepekan setelah Idulfitri dan menjadi bagian dari perayaan Syawalan masyarakat setempat. Gunungan tersebut dibuat dari makanan khas Pekalongan, yaitu nasi megono, yang ditata sedemikian rupa sampai membentuk gunungan. Setelah melalui rangkaian doa dan kirab, gunungan kemudian diperebutkan warga. Suasananya? Bisa dibayangin sendiri, ribuan orang berkumpul dan saling sigap ketika sesi “rayahan” dimulai. Tradisi ini bukan cuma soal makanan gratis, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan silaturahmi masyarakat Pekalongan.
Ada beberapa alasan kenapa Gunungan Megono selalu punya daya tarik tersendiri dan bikin warga rela datang meramaikan Syawalan:
1. Bentuk gunungnya bikin penasaran.
Berbagai makanan ditata bertingkat menyerupai gunung. Megono menjadi bagian utama, kemudian dilengkapi hasil bumi dan sajian lainnya. Dari jauh saja tampilannya sudah kelihatan beda dari acara kuliner biasa.
2. Ada momen rebutan yang jadi puncak acara.
Setelah doa dan rangkaian acara selesai, warga dipersilakan mengambil bagian dari gunungan. Bagi sebagian masyarakat, mendapatkan makanan dari gunungan dipercaya membawa berkah dan rezeki. Jadi, jangan heran kalau suasananya langsung berubah ramai ketika sesi ngrayah dimulai.
3. Megono bukan makanan random.
Megono memang identik dengan Pekalongan. Kuliner berbahan nangka muda ini sudah lama menjadi bagian dari identitas makanan daerah. Karena itu, menjadikannya sebagai pusat tradisi Syawalan terasa seperti membawa identitas kuliner lokal langsung ke tengah perayaan budaya.
4. Bukan cuma buat seru-seruan.
Tradisi ini punya pesan sosial yang kuat. Gunungan dimaknai sebagai gambaran kerukunan dan hubungan antarwarga. Bahkan penelitian mengenai tradisi ini menyebut adanya fungsi spiritual, sosial, budaya, sekaligus ekonomi di dalam pelaksanaannya.
Kalau dilihat dari sudut pandang urban, tradisi seperti Gunungan Megono sebenarnya punya peran penting di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Kota dan kawasan perkotaan cenderung bergerak cepat, sementara tradisi lokal bisa menjadi “rem” yang menjaga hubungan sosial tetap dekat. Secara sosial, aktivitas seperti membuat gunungan, melakukan kirab, berkumpul, lalu berbagi makanan menciptakan interaksi langsung antarwarga. Dalam konteks budaya perkotaan dan pariwisata, kegiatan seperti ini juga bisa menjadi cultural attraction, karena makanan lokal tidak cuma diposisikan sebagai produk kuliner, tetapi dikemas bersama cerita, simbol, dan pengalaman kolektif. Pemerintah Jawa Tengah sendiri pada pelaksanaan Harmoni Syawalan Megono 2026 menyebut tradisi tersebut sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus potensi promosi wisata dan budaya Kabupaten Pekalongan.
Pada akhirnya, Gunungan Megono di Linggoasri membuktikan kalau Pekalongan punya identitas yang jauh lebih luas daripada sekadar batik. Ada makanan, tradisi, gotong royong, sampai momen rebutan yang justru membuat budaya lokal terasa hidup. Di tengah zaman yang makin modern, tradisi seperti ini malah jadi pengingat bahwa sesuatu yang sederhana bisa punya cerita dan makna yang panjang.