Kalau biasanya masak-masak identik dengan kompor, wajan, atau oven, masyarakat Papua punya cara yang jauh lebih unik. Namanya tradisi Bakar Batu, sebuah tradisi kuliner sekaligus kegiatan sosial yang masih bisa ditemui di Jayapura, Papua, termasuk dalam komunitas masyarakat Papua pegunungan yang tinggal di Kota Jayapura. Bukan batu yang dimakan, ya, melainkan batu dipanaskan sampai benar-benar panas lalu dipakai untuk memasak makanan di dalam lubang tanah. Dalam praktiknya, bahan makanan seperti ubi, sayuran, daging, atau ayam disusun berlapis bersama batu panas dan daun, kemudian ditutup agar panasnya terperangkap. Tradisi ini juga dikenal dengan sejumlah nama lokal, seperti Barapen di Biak dan Kit Oba Isago di wilayah Wamena.
1. Masaknya benar-benar pakai panas dari batu.
Batu dikumpulkan lalu dibakar di atas kayu sampai panas membara. Setelah itu, batu dimasukkan ke lubang tanah yang sudah diberi lapisan daun. Makanan kemudian ditata bertahap, ditutup lagi dengan daun dan batu panas. Jadi, konsepnya mirip oven alami versi tradisional.
2. Bukan cuma soal makanan.
Yang bikin Bakar Batu menarik adalah prosesnya dilakukan ramai-ramai. Ada yang mencari batu dan kayu, menyiapkan bahan makanan, menggali lubang, sampai menata makanan. Semua punya peran, sehingga proses memasak berubah jadi momen kumpul dan gotong royong.
3. Ada momen makan bersama yang jadi inti acara.
Setelah makanan matang, hidangan dibagikan dan disantap bersama. Tradisi ini kerap hadir dalam acara syukuran, penyambutan tamu, pernikahan, maupun momen penting lainnya.
4. Bakar Batu juga punya pesan sosial yang kuat.
Makanan yang sudah jadi bukan cuma dinikmati oleh orang tertentu. Kebersamaan dan pembagian makanan menjadi simbol persaudaraan, solidaritas, rasa syukur, bahkan dalam konteks tertentu dapat menjadi bagian dari proses perdamaian dan rekonsiliasi.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, sebenarnya teknik Bakar Batu masuk akal banget. Batu yang dipanaskan menyimpan energi panas, lalu melepaskannya secara perlahan ketika berada di dalam lubang. Lapisan daun dan penutup di bagian atas membantu menahan panas serta uap sehingga makanan matang secara perlahan. Dalam konteks urban, tradisi ini menarik karena menawarkan sesuatu yang justru makin langka di kehidupan kota: proses makan yang nggak buru-buru dan melibatkan banyak orang. Di tengah kebiasaan masyarakat modern yang serba cepat—makanan tinggal pesan lewat aplikasi, datang, lalu makan sendiri—Bakar Batu mengembalikan fungsi makanan sebagai alat untuk membangun hubungan sosial. Penelitian tentang praktik Bakar Batu di Jayapura juga mencatat bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi ajang silaturahmi dan kekerabatan antarmasyarakat Papua Pegunungan di perkotaan.
Pada akhirnya, Bakar Batu bukan sekadar teknik memasak tradisional yang kelihatan unik. Di balik batu panas, lubang tanah, dan makanan yang dimasak bersama, ada pesan sederhana: makanan terasa lebih berarti ketika dinikmati bareng-bareng. Tradisi ini jadi bukti kalau budaya kuliner Papua bukan cuma soal rasa, tetapi juga tentang persaudaraan, gotong royong, dan menjaga hubungan antarmanusia.